Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan
Sukabumi #MembudayakanMenonton
05.42.00
- Halo, SENANG.... kami selalu berusaha optimal membangun#sukabumi lewat film, kami selalu eksis di luar dengan komunitas lain dan kami selalu iri dgn daerah lain. tapi kami belum yakin masyarakat/komunitas di Sukabumi tahu bahkan mengenal kami, inilah kelemahan kami... Tentu banyak hal dan banyak pertimbangan juga banyak program/impian dari kami yang ingin "MEMBUDAYAKAN MENONTON" kami selalu terbuka untuk bahu-membahu...
- sukabumifilmTerkait Bioskop, kami sangat rindu... bahkan saat ini sangat idam2kan masyarakat #Sukabumi, namun film itu jadi barang mahal bagi#sukabumi kita musti jauh2 ke bdg atau bogor... Pandangan kami walaupun saat ini #Sukabumi butuh Ruang Pemutaran Alternatif bukan bioskop yg mewah, artinya perlu adanya pertimbangan untuk masyarakat menengah kebawah bagaimana sebuah pemutaran itu bisa dinikmati oleh semua kalngan bukan hanya kalangan menengah keatas dan inverstor saja, tentu masyrakat, komunitas dan pemerintah perlu bersinergi. 2017 @Sukabumifilmberusaha memfasilitas itu dgn pemutaran film2 panjang dan karya anak2 komunitas, alhamdulillah distributor film sdh ada yg siap membantu unutk film, kami usahakan perlengkapan pemutaran januari star.
- sukabumifilmRuang pemutaran alternatif yang sedang diusulkan oleh kami: 1. Perpustakaan Daerah (Akan dibangun ruang audio visual, unutk pemutaran sangat relavan dan nyaman, doakan saja) 2. SMKN1 (Ada bioskop mini yg bisa memuat 30 penonton,) 3. Taman Cikondang engan konsep layar Tancap. Saat ini kami sengan berjuang untuk memberkan hiburan itu kepada masyarakat #Sukabumi doakan saja mimpi kita bersama bisa tercapai dan langgeng.!
Nasib Kelam Mahasiswa Film
11.41.00

Just to remind you that it’s not all glory.
It’s September. Dan banyak dari lo yang mulai masuk kuliah lagi. Ada juga beberapa di antara lo yang baru masuk kuliah.
Khususon buat yang kuliah film, apalagi baru masuk kuliah, gue mau bilang selamat datang. It’s gonna be full on, hardcore adventure. Kenyataan bahwa lo berani bilang ke orang tua lo bahwa lo mau kuliah film karena lo merasa bahwa film adapassion lo dan lo yakin di masa depan film akan bisa bikin lo bahagia dan sumpah demi Tuhan lo bisa hidup dari film, gue mau bilang congrats. Lo udah ngebuktiin bahwa lo punya nyali. Karena kenyataannya… udahlah. Lo akan tau sendiri nantinya.
It’s super fun though.
Di sini, gue akan mau share sedikit, pengalaman-pengalaman gue (dan juga teman-teman gue, baik mahasiswa film yang masih kuliah atau yang sudah lulus) tentang apa yang terjadi ketika lo bilang mahasiswa film ke sanak saudara, kenalan baru, kecengan di Instagram atau bahkan inceran lo di Tinder bahwa lo adalah mahasiswa film.
Like I said before, it’s not all glory.
But trust me, it’s gonna be funny in the near future.
#1 “Oh, kuliah film. Kalo lulus ntar bakalan jadi sutradara dong?”
Klise memang. Tapi itulah yang akan terjadi. Bukan salah mereka. Orang awam taunya di dunia film cuman ada sutradara, pemain, penulis skrip, atau produser. Mereka biasanya mikir bahwa produser adalah orang yang duitnya banyak. Bukan salah mereka juga. Karena itu emang bukan pengetahuan umum. Mereka nggak tau bahwa ada sebegitu banyak job desk di dunia film. Kalo udah gini, lo bisa hepi dan nyengir jelasin bahwa lo ntar maunya jadi apa. Atau lo dorong dia sampe nyebur got. Tergantung siapa yang nanya.

#2 “Oh, lo kuliah film. Bikin sinetron dong?”
Biasanya kalimat ini dikeluarkan sama sanak saudara yang terakhir kali nonton bioskop adalah ketika Eva Arnaz masih menjadi bintang idola. Kalo udah begini, diem aja santai. Nggak usah emosi walopun lo tau bahwa film sama tv adalah medium yang berbeda.
#3 “Wah hebat lo anak film. Pernah ketemu Syahrini nggak? Kayak gimana orangnya?”
Jangan sedih. Ini kejadian sama gue. Nggak hanya Syahrini, hampir semua seleb yang kebanyakan nongol di tv akan ditanya apakah lo kenal atau nggak. Mereka nggak peduli kalo lo pernah megangin bajunya Shailene Woodley pas dia syuting, misalnya. Mereka lebih care kalo lo pernah berada di tempat yang sama dengan Nagita Slavina atau Ravi Ahmad. Nggak papa. Iyain aja. Atau bilang aja lo punya nomer whatsapp mereka. Pasti mereka hepi banget.
#4 “Wah anak film. Tante punya cerita bagus banget buat difilmin.”
Dan 90% dari cerita yang diceritain sama sodara ini levelnya setara dengan surat pembaca di Majalah Anita—sori atas referensi yang super outdated ini. Kebanyakan isinya membosankan, tanpa poin dan banyak banget karakternya. Ya bisalah kalo dibikin arthouse ala-ala gitu. Dan ya, di saat begini, lo senyum aja. Bilang aja menarik.
#5 “Udah bikin film apa aja?”
Jangan sakit hati kalo lo bilang lo baru bikin film pendek. Mereka cuman berharap lo udah pernah syuting sama Raditya Dika.
#6 “Ajak Om main dong. Om bisa akting lho.”
Dan ketika lo serius untuk test screening, level akting doi sama dengan semua pemain di filmnya AA Gatot yang baru. Tapi nggak sedikit juga yang ternyata punya keahlian akting.

#7 “Dian Sastro kalo di lokasi suka makan apa?”
Dan ketika lo bilang bahwa Dian Sastro makan nasi dan sayur daun singkong seperti kita semua, lo akan melihat wajah mereka berubah jadi kecewa. Mereka berharap bahwa Dian Sastro makannya makanan super fancy yang aneh.
#8 “Bener nggak sih kalo si Anu itu begitu…”
Dan lo cuman bisa senyum garing karena lo kenal aja nggak.
#9 “Kenal sama Riri Riza nggak? Aku punya cerita yang kayaknya kalo difilmin sama dia bakalan box office.”
Dan cerita yang di-propose adalah cerita dia kecebur got waktu tujuh belasan tahun 94.
#10 “Oh, lo anak film. Pasti jago megang kamera dong. Fotoin kita dong. Yang bagus ya. Buat Instagram nih.”
Kalo lo emang nggak jago soal kamera-kameraan, yang bisa lo lakukan antara senyum dan nurut atau ambil hape dia dan lemparin ke aspal. Sekali lagi, tergantung siapa yang bilang ini.

Festival Film Pendek Pos Indonesia 2015
20.36.00Festival Film Pendek Pos Indonesia 2015
Moviestival memberi kesempatan kepada
seluruh sineas muda amatir di Indonesia untuk mengikuti ajang kompetisi
ini dengan mengirimkan hasil karyanya berupa film pendek.
Tema Moviestival tahun 2015 : ‘CARING AND LOVING ‘
Caring and Loving, peduli sesama dan
cinta kasih, adalah nilai dasar sebuah hubungan antar manusia di dalam
masyarakat, baik dalam arti cinta (romance), persahabatan (friendship)
ataupun kepedulian sosial (solidarity), baik dalam konteks hubungan
antarpribadi, hubungan dalam sebuah ikatan keluarga, ataupun hubungan
sosial dalam arti luas lainnya (keberagaman, nasionalisme, dan
lain-lain).
Materi cerita di dalam tema tersebut dapat memanfaatkan simbolisme
dari PT Pos Indonesia baik berupa produk maupun korporat, namun tidak
dimaksudkan bersifat ‘hard selling’ terkait dengan jasa pelayanan Pos
itu sendiri.PESERTA FESTIVAL FILM PENDEK POS INDONESIA TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN
sumber: http://moviestival.com/
Nobar ala komunitas film indie Sukabumi
22.33.00
Perkembangan di dunia industri kreatif kian hari semakin melonjak perkembangannya, bentuk-bentuk kesenian mengalami suatu tantangan baru dan luar biasa dengan teori-teori baru, sistem produksi yang baru, hal tersebut merupakan revolusi teknologi.
Lahirnya sebuah komunitas pembelajar dan pecinta seni media rekam (film) jaman sekarang sangatlah wajar. Kreator-kreator muda yang sedang mengalami perjalanan pembelajaran tidak menjadi alasan dan sudah seharusnya mandiri melawan tantangan perkembangan jaman.
Sukabumi, yahh itulah kota kecil di Jawa Barat atau orang bilang kota Mochi yang terus berusaha sejajar dengan kota-kota lain di bidang industri kreatif di Indonesia, Jawa Barat khususnya. Sebagian kecil usaha pelajar dan komunitas film di Sukabumi yaitu dengan mengadakan nonton bareng atau lebih dikenal dengan nobar, suatu usaha yang digagas oleh para pelajar dan komunitas film indie di Sukabumi, rencananya akan rutin nobar setiap malam minggu dari pukul 4 sore sampe 9 malam, yang berlokasi di Supermall Sukabumi lantai 3, hal ini menjadi suatu sejarah bagi Sukabumi untuk memulai kembali perfilman/bioskop di Sukabumi. Kegiatan yang terselenggara atas persembahan sebuah event Organizer, Matahati Pro'comm dengan Supermall serta tak lepas dari semangat penggiat pembuat film indie dari kalangan pelajar, yaitu SMK Pasim Plus, SMAN 2, SMAN 3 dll, serta para komunitas film diantaranya CAF, CCFILM, TILURAMO SOEKABUMI, KOFI PASIM tidak hanya dari komunitas film ada juga dari komunitas fotografi yaitu FOTOKAMI dan komunitas musik dll.
Kegiatan tersebut tidak lain dengan tujuan memperkenalkan karya-karya sineas Sukabumi juga bertukar pikir dengan temu komunitas film di Sukabumi dan saling mengapresiasi, kedepannya dari kegiatan ini supaya bisa menjadi alternatif untuk penikmat film di malam minggu, "jadi buat yang malam mingguannya gitu-gitu aja mending nonton film karya anak-anak kreatif Sukabumi." dan mudah-mudahan dari sini Sukabumi bisa menggarap film layar lebar yang bisa dinikmati tidak hanya wilayah regional, nasional bahkan internasional, Amiin".
Ini sebagian foto trailer nonton bareng pada 25 April 2015,
Penayangan film-film pendek karya sineas muda Sukabumi : SMK Pasim dan Komunitas CAF, CCFILM dan TILU RAMO. Supermall Lantai 3, 25 April 2015, Jam 16.00 - 20.00
![]() |
| Diskusi bareng para komunitas film |
Kaswari 7 FV - Matahati Pro'comm
Foto oleh : Kang Ardhian Chikal
INDONESIAN SHORT FILM FESTIVAL 2015
20.00.00
Indonesian Short Film Festival 2015 adalah ajang festival film pendek yang diselenggarakan oleh SCTV sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ulang tahun SCTV yang ke-25.Bagi SCTV, ajang seperti ini bukanlah yang pertama. Tercatat sebelumnya SCTV pernah sukses menggelar Festival Film Independen di tahun 2001-2003.
PENDAFTARAN
1. Periode kompetisi film pendek di Indonesian Short Film Festival tanggal 15 April - 27 Juni 2015.
2. Kategori yang dilombakan adalah Drama, Thriller, Komedi, Action, Animasi.
3. Film berwarna dengan format Standar Definition (PAL: 720 x 576) atau High Definition (1080 pixels) berdurasi 5-15 menit
4. Pendaftaran dilakukan dengan upload karya film pendek di www.vidio.com dengan format judul: ISFF 2015 (spasi) judul (spasi) trailer dan ISFF 2015 (spasi) judul (spasi) full
KETENTUAN
1. Panitia akan melakukan seleksi terhadap seluruh film yang didaftarkan ke www.vidio.com akan diseleksi menjadi 100 judul terpilih (maksimum 20 judul setiap kategori) untuk kemudian dipilih 50 judul finalis (maksimum 10 judul setiap kategori) di setiap kategori film pendek yang dilombakan. Setiap peserta masuk dalam tahapan terpilih maupun final akan mendapat pemberitahuan melalui email dari panitia Indonesian Short Film Festival 2015.
2. Penilaian masing-masing kategori kompetisi akan dilakukan oleh para juri kredibel yaitu Monty Tiwa, Dennis Adhiswara, Acha Septriasa, dan Sidi Saleh.
3. Semua izin yang diperlukan untuk pendaftaran film pendek, yang berkaitan dengan termasuk tetapi tidak terbatas pada pencipta/pemegang hak cipta, talent, musik, bunyi, suara, gambar, dan klip yang digunakan dalam film pendek yang didaftarkan, apabila ada, merupakan tanggung jawab pendaftar sepenuhnya.
HADIAH
- Film terbaik masing-masing kategori akan ditayangkan di SCTV sebagai bagian dari rangkaian HUT SCTV ke-25 pada tanggal 18-22 Agustus 2015.
- Pemenang masing-masing kategori Film Pendek Terbaik yang dilombakan akan menerima hadiah uang sebesar Rp. 25.000.000,00, dan untuk Film Pendek Favorit sebesar Rp. 15.000.000,00.
- Pemenang akan menerima piala dan piagam penghargaan dari SCTV.
- Film terbaik akan direkomendasikan kepada para produser film Indonesia untuk dibuat dalam versi film panjang
- Film pendek yang terpilih akan dibuat dalam format film televisi.
- Pemenang akan mendapatkan penawaran kontrak ekslusif sebagai film maker di www.vidio.com.
- Hadiah dan penghargaan akan diberikan kepada pemenang pada acara HUT SCTV Ke-25 tanggal 24 Agustus 2015, dan disiarkan secara live di SCTV. Pemenang akan dihadirkan dengan biaya transportasi dan akomodasi dari Panitia Indonesian Short Film Festival 2015.
Pengumuman dilakukan pada program Inbox dan penyerahan hadiah diberikan pada program HUT SCTV Ke-25 tanggal 24 Agustus 2015 live di SCTV.
* Dengan mendaftarkan film pendek pada Indonesian Short Film Festival 2015, berarti pendaftar telah mematuhi peraturan yang ditetapkan di Syarat dan Ketentuan ini.
**Keputusan panitia dan Tim Juri Indonesian Short Film Festival 2015 adalah mutlak, final, dan tidak dapat di ganggu gugat.
sumber:http://www.sctv.co.id/program-khusus/indonesian-short-film-festival-2015_24822.html
Menjadi tuan di negeri sendiri, bukan lagi mimpi!
09.30.00
Sukabumi/mediakreatifAP-Kalau pemerintah peduli mendorong kemajuan perfilman Nasional, saatnya tiap Gubernur, Bupati & walikota membangun bioskop khusus film Indonesia di daerah masing-masing ( Dana APBD dan dijadikan BUMD). Dengan demikian akan ada 500-an bioskop baru yang akan menampung produksi film2 Nasional. Target 2 juta penonton (rata2) untuk film bagus, gak lagi menjadi Mimpi ! Film Indonesia pasti akan bangkit. Slogan "Menjadi tuan di negeri sendiri", bukan lagi menjadi khayalan! cc mas Kardy Syaid.
![]() |
| Logo Pemutaran Film Pendek Indie Sukabumi yang sempat hadir di kota mochi |




